KHI, Another Way to Love Indonesia

Untuk menghancurkan suatu bangsa atau negara, maka hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya! Zaman yang selalu bergerak dan global, tak bisa dipungkiri menyebabkan banyak generasi muda dan juga generasi tua kita sudah mulai melupakan sejarah, bahkan lari meninggalkan sejarah. Sebagian besar lebih memilih modernisasi dan melupakan tradisi, mereka memuja bangsa-bangsa lain tetapi melupakan kebesaran bangsa sendiri, mereka mengagungkan globalisasi tetapi melupakan lokalitas, mereka menjiwai masa kini tapi melupakan dan meremehkan masa lalu.

Di Indonesia, terdapat berbagai macam kebudayaan dengan latar belakang sejarah yang begitu panjang. Dari beragamnya arsitektur bangunan, nama jalan dan kampung, peristiwa sejarah, atraksi budaya, serta bentuk-bentuk kebudayaan lain yang unik dan telah menjadi ciri khas Indonesia. Inilah yang dikenal sebagai special flavours of Indonesia. Namun demikian, tidak semua masyarakat Indonesia kenal dengan potensi sejarah dan budaya di sekitarnya itu. Ada yang menyebutkan bahwa “Orang Indonesia tidak berakar, karena tidak mau mengenal sejarah dan budayanya sendiri.”

Komunitas Historia Indonesia ketika Susur Sejarah Jatinegara

Berawal dari kegiatan Lomba Lintas Sejarah bagi siswa SMA se-Jabodetabek oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mendapat respon positif dari berbagai pihak, akhirnya tercetuslah ide oleh ketuanya –Asep Kambali– untuk meneruskan kegiatan itu dan bukan saja ditujukan untuk siswa-siswa sekolah saja, tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat umum. Hal ini menyebabkan beberapa mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI) mendirikan sebuah komunitas untuk menampungnya, Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia (KPSBI-Historia) atau yang kini lebih dikenal dengan Komunitas Historia Indonesia (KHI) akhirnya terbentuk di Jakarta pada 22 Maret 2003 dengan Asep Kambali sebagai ketuanya.

Komunitas Historia Indonesia memiliki visi membangun kesadaran sejarah dan budaya masyarakat Indonesia yang terwujud dalam nasionalisme dan patriotisme. Visi ini dituangkan dalam misinya untuk mewujudkan program-program yang rekreatif, edukatif, dan menghibur. Semuanya bisa kita lihat pada kegiatan-kegiatan KHI yang telah dilaksanakan selama ini seperti kegiatan-kegiatan wisata sejarah yang mana para pesertanya berwisata dan berekreasi tetapi ada pengetahuan sejarah yang ditanamkan di dalamnya. Kegiatan-kegiatan itu seperti misalnya Jelajah Kota Tua Jakarta, Napak Tilas Proklamasi, China Town Journey, Arabic Village Tour, The Legend of Si Pitung Trip, Wisata Bahari Teluk Jakarta, maupun kegiatan-kegiatan tanpa perjalanan seperti diskusi dan pemutaran film yang berhubungan dengan sejarah. Walaupun kegiatannya sebagian besar berlokasi di sekitar Jakarta, KHI juga tercatat pernah berkegiatan di luar Jakarta seperti Caruban Nagari Heritage Trails di Cirebon, Ekspedisi Tarumanegara di Bogor, atau Susur Pulau Rempah-rempah di Ternate.

Seiring berjalannya waktu, KHI semakin mendapatkan dukungan dan menjalin hubungan dengan pihak-pihak terkait di bidang sejarah seperti instansi-instansi pendidikan, pariwisata, pengelola-pengelola museum, dan instansi-instansi lain. Anggotanya sendiri diklaim telah berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang dengan sistem keanggotaan yang tidak mengikat. Maka itu, anggotanya bisa datang dan pergi. Mereka yang memang cinta sejarah, akan setia dan bertahan. Kalau pun tidak, bisa juga tetap bergabung untuk sekadar menambah teman. Dengan bergabung di KHI, mempelajari sejarah dan budaya menjadi tanpa paksaan dan apa adanya. KHI melakukan bagaimana membuat sejarah menjadi menarik dan menyenangkan. Yang mana pada akhirnya para anggotanya dengan mudah mendapatkan hikmah dari pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah, kondisi yang dikenal sebagai kesadaran sejarah.

Jasmerah! Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah! Kata dan kalimat tersebut pernah dikumandangkan dalam pidato Bung Karno, salah seorang proklamator Indonesia. Betapa ia berpesan dengan kalimat tersebut kepada rakyat di negerinya untuk tidak lupa akan sejarah. Mengetahui sejarah bukan hanya soal nostalgia untuk mengenang masa silam, tapi sejarah merupakan awal dan tempat kita kembali. Sejarah, baik kebesaran atau kekerdilan di masa silam adalah cermin dan pelajaran generasi penerus untuk sekarang dan yang akan datang. Dalam perjalanan sebagai diri pribadi atau sebagai sebuah bangsa, kalau titik awal saja belum diketahui bagaimana mungkin kita bisa melakukan perjalanan dengan pasti ke depan?

Oleh I Komang Gde Subagia
Disarikan dari Website Komunitas Historia Indonesia