Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali

Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali

Tiba tiba angkot warna hijau yang kami carter itu berhenti, tepat sebelum belokan. Seorang bapak yang tampaknya sudah berusia cukup lanjut ternyata menghentikan kendaraan kami. Bapak itu berpakaian adat khas Bali, mengenakan udeng, kemeja putih, dan kain jarik yang terlilit rapi di badannya. Beliau menghampiri mobil kami dan mengatakan sesuatu. Kami mengangguk-angguk, sambil menahan senyum karena sebenarnya sama sekali tidak paham dengan apa yang beliau ucapkan. Untungnya sopir mobil kami bisa menerjemahkan maksud bapak tersebut, kami harus turun untuk bersembahyang terlebih dahulu sebelum menuju Pura Pasar Agung. Untuk keselamatan katanya.

Di Bibir Kaldera Gunung Agung

Setelah beberapa saat berembug akhirnya hanya Bedul, Bagus, Adi, dan Cirit yang turun. Mereka berempat nanti akan dijemput lagi oleh angkot carteran kami. Sisanya langsung melanjutkan perjalanan saat itu juga, menuju Pura Pasar Agung yang letaknya memang sudah tidak jauh lagi. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 11.00 mengindikasikan bahwa kami harus mempercepat pergerakan, menyesuaikan jadwal makan siang yang sudah tidak lama lagi.

Hari itu, Kamis 30 Juni 2011 kami berencana untuk mendaki Gunung Agung. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Pulau Bali, dengan ketinggian sekitar 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Gunung Agung adalah gunung berapi tipe strato, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang masih melepaskan asap dan uap air. Gunung Agung adalah gunung yang menjadi tempat suci bagai masyarakat Hindu Bali, sering diadakan upacara keagamaan di tempat ini.

Tim Pendakian Gunung Agung

Karena Gunung Agung merupakan tempat yang disucikan, ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan selama pendakian. Diantaranya adalah pantangan untuk membawa bahan makanan yang berasal dari daging sapi dan babi, pantangan untuk perempuan yang sedang datang bulan, pantangan memakai perhiasan dari emas, dan beberapa pantangan lainnya. Selain itu, jika sedang ada upacara keagamaan, Gunung Agung sama sekali tertutup untuk pendakian. Sehingga sebelum berangkat, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa waktu pendakian kita bukanlah hari peribadatan umat Hindu Bali.

Kami memilih jalur pendakian melalui bagian selatan, yaitu jalur Selat, tepatnya melalui Pura Pasar Agung. Salah satu alasan kami memilih jalur ini adalah untuk menghemat biaya, karena jika melalui jalur Pura Besakih kami harus membayar guide dengan biaya yang cukup mahal. Kami harus berhemat karena setelah mendaki Gunung Agung ini rencananya kami akan segera melanjutkan perjalanan ke Pulau Lombok, mendaki Gunung Rinjani. Melalui jalur ini biasanya diperlukan waktu sekitar 4-5 jam untuk mencapai puncak Gunung Agung.

Jalur Menuju Telaga Mas

Sambil memasak menu makan siang di pelataran parkir, kami menyiapkan segala perbekalan dan perizinan yang diperlukan. Harga retribusi yang harus kami bayarkan tidak terlampu mahal, tidak sampai sepuluh ribu rupiah per orang. Jauh lebih murah jika dibandingkan melalui jalur Pura Besakih. Rencananya dalam pendakian kali ini kami akan menginap satu malam terlebih dahulu, sebelum paginya melakukan pendakian ke puncak Gunung Agung.

Sekitar pukul 13.00 kami berangkat memulai pendakian. Dari pelataran parkir menuju Pura Pasar Agung kami harus melalui undakan tangga yang menurut info yang pernah kudapat berjumlah 200-300an anak tangga. Aku sendiri sama sekali tidak berpikiran untuk menghitung berapa jumlah tepatnya, cuaca panas dan barang bawaan yang lumayan berat seketika mengkerdilkan niatku untuk menghitungnya. Perjalanan menuju Pura Pasar Agung menjadi semacam warming up yang harus dilakukan sebelum pendakian ke Puncak Gunung Agung. Tetes keringat satu persatu mulai bercucuran di wajah, mulai membasahi pakaian yang kami kenakan.

Tidak sampai 10 menit kemudian kami tiba di halaman Pura Pasar Agung yang menghijau oleh subur rerumputan. Bangunan pura kelihatan indah dengan gaya arsitekturnya yang khas. Beberapa orang pemuda berpakaian khas Bali sedang duduk-duduk santai di bawah pepohonan. Kami menyempatkan diri untuk menghampiri mereka, sebentar bercakap-cakap sambil mengambil beberapa gambar. Mengingat bahwa jerigen tempat air kami belum diisi, kami segera menuju ke salah satu bangunan di samping pura untuk mengisi air. Sebelumnya kami telah meminta izin untuk mengisi air kepada salah seorang bapak penjaga pura, beliau mengizinkan seraya berpesan pada kami agar hati hati dalam pendakian.

Jalur pendakian Selat mengambil jalan setapak tepat di belakang Pura Pasar Agung. Jalurnya lumayan jelas dan terlindung oleh rimbun pepohonan, cukup melindungi kami dari terpaan terik sinar matahari siang itu. Beberapa menit meninggakan kawasan pura, jalurnya makin menanjak sehingga mulai memforsir tenaga. Perjalanan kami lakukan dengan cukup santai dan tidak terlalu terburu-buru, karena beberapa personil tim kami memang tidak begitu sering mendaki gunung sehingga fisiknya belum terlalu terbiasa.

Istirahat dan Plotting Jalur
Narcisme
Pemandangan dari Camp

Sekitar satu jam kemudian medan pendakian mulai berubah. Jalurnya berubah menjadi sedikit berbatu-batu dan makin terjal, pepohonan pun sudah mulai jarang memayungi kepala kami. Kami memutuskan untuk beristirahat, memuaskan dahaga tenggorokan sambil melakukan orientasi terhadap posisi kami saat itu. Ternyata kami sudah sangat dekat dengan titik camp kami hari itu, Pertigaan Telaga Mas. Pemandangan dari tempat itu sangat menakjubkan, lautan awan yang menghampar dengan luasnya. Memanjakan mata kami yang terbiasa melihat ramai dan riuhnya suasana perkotaan. Tampak pula beberapa ekor monyet yang bertengger di dahan pohon, mengamati aktivitas yang kami lakukan. Mungkin monyet-monyet tersebut sedang bertanya-tanya sedang apa gerombolan manusia ini berada di kawasan rumahnya.

Pura Pasar Agung dari Telaga Mas

Begitu malam tiba, seperti biasanya kami menghabiskan waktu dengan bercanda sambil menikmati manis kopi dan hangatnya perapian. Sampai kemudian terdengar dari kejauhan lamat-lamat suara orang yang sedang berbicara, diiringi dengan bunyi lonceng yang bergemerincing. Kami sedikit bertanya tanya suara apakah gerangan itu. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul delapan malam.

Ternyata suara tersebut berasal dari rombongan yang akan melakukan peribadatan ke Telaga Mas. Sekitar belasan orang, baik tua maupun muda, laki-laki dan perempuan, memakai pakaian adat, dan membawa seperangkat kebutuhan upacara. Sebelum menuju Telaga Mas, mereka mampir sebentar ke camp kami. Rupanya mereka adalah rombongan yang berasal dari Kota Denpasar. Begitu mereka mulai beribadah, kami segera menghentikan kesibukan kami saat itu. Mendengar dan memperhatikan dari kejauhan ibadah yang sedang mereka lakukan. Mereka tampak khusyuk beribadah seolah tidak terganggu oleh hawa dingin malam itu.

Sekitar satu jam kemudian ibadah mereka pun selesai. Sekitar sepuluh menit sebelumnya Dwipa dan kakak perempuanya -anggota rombongan yang melakukan peribadatan- telah terlebih dahulu menghampiri camp kami. Handung yang memang gampang akrab dengan orang-orang segera membombardir mereka dengan berbagai pertanyaan. Dari mulai nama, umur, asal, sampai bagaimana cara membuat udeng dengan benar. Udeng adalah ikat kepala khas masyarakat Bali. Dengan mengikuti instruksi yang diberikan oleh Dwipa, kami mulai membuat udeng dari slayer merah yang kami bawa. Memang kalau instruksinya berasal dari sang ahli, hasilnya pun akan bagus. Begitulah kesimpulan yang aku dapat malam itu.

Kemudian anggota rombongan yang lain segera menuju camp kami. Camp kami kembali riuh oleh canda dan tawa, kami mengobrol berbagai hal bersama mereka. Ternyata dari mereka ada juga yang sering melakukan kegiatan di alam bebas. Tidak lupa beberapa tips dan nasihat diberikannya kepada kami.

Melihat mereka dari dekat dengan diterangi oleh cahaya dari api unggun rupanya sedikit memberikan getar pada perasaanku. Mereka dengan tekad yang kuat mampu menghadapi dingin malam itu, menuju tempat peribadatan yang lumayan jauh, hanya diterangi beberapa buah senter. Dengan memakai pakaian adat, menurutku tentunya akan mempersulit pergerakan mereka. Tidak dapat kubayangkan bagaimana susahnya melintasi jalur terjal dengan kain jarit yang melingkar di tubuh, namun ternyata tidak terlihat adanya kesusahan di wajah mereka. Bertolak belakang denganku yang untuk mengambil air wudhu dengan jarak yang tidak jauh saja merasakan rasa malas yang luar biasa. Jujur saja aku kagum sekaligus malu pada mereka saat itu, menimbulkan tekadku untuk berubah dan memperbaiki ibadah yang aku lakukan.

Sekitar 15 menit kemudian mereka berpamitan dan meninggalkan camp kami. Setelah merapikan barang-barang yang masih berserakan di camp, kami segera saja menuju alam mimpi. Kami harus tidur, mengistirahatkan badan kami agar fit untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Rencana kami untuk summit attack telah dibatalkan, esok kami akan memulai pendakian sekitar pukul delapan pagi.

Kaldera Gunung Agung

Sesuai rencana, sekitar pukul delapan pagi kami telah siap memulai perjalanan. Di tengah jalan kami bertemu dengan beberapa pendaki lain yang sudah mencapai puncak. Satu jam perjalanan kami telah sampai di batas vegetasi. Perjalanan kami lakukan dengan hati-hati. Medan semakin berat, menanjak di jalur yang didominasi oleh batu-batu besar, licin, dan terjal. Kami bergerak mengikuti punggungan utama. Dari jauh tampak Puncak Gunung Agung, meskipun saat itu aku belum tahu di mana tepatnya jalur menuju lokasi puncak.

Meskipun sebelumnya sempat salah jalur di beberapa meter terakhir menjelang puncak, sekitar pukul 12:00 siang akhirnya kami sampai di puncak, tepat di bagian selatan bibir kaldera Gunung Agung. Saat itu kami berada di cekungan kecil di pinggir kaldera. Tampak di sekitarnya bebatuan cadas yang berukuran lumayan besar. Di sana ada sebuah patung kecil, berukuran sekitar 20 cm. Menurut beberapa temanku, itu merupakan patung dari Sai Baba, memang terlihat cukup mirip.

Berfoto di Puncak Agung

Dari puncak pemandangan terlihat begitu luas, batas-batas Pulau Bali terlihat dengan jelas. Terlihat pula di kejauhan Pulau Lombok dan Pulau Nusa Penida, menyembul di hamparan luasnya lautan Hindia. Suasana siang itu sangat cerah, pandangan mata kami tidak terhalang oleh apa pun. Kawah Gunung Agung berukuran cukup besar, berdiameter kurang lebih 200an meter dengan kedalaman kira-kira 30-40 meter. Tidak tampak adanya asap belerang yang biasa ditemui di kawah sebuah gunung siang itu.

Setelah puas beristirahat, sambil menikmati makanan ringan dan indahnya pemandangan, sekitar pukul 13:30 kami memutuskan untuk segera turun dari puncak, mengantisipasi kabut yang biasanya turun di sore hari. Dari puncak kami menyisir menuruni punggungan batu batu cadas. Kami harus sangat berhati-hati karena bebatuan licin, sangat berbahaya bila kami terpeleset.

Jalur Turun dari Puncak

Perjalanan siang itu berjalan sangat lambat karena salah seorang anggota mengalami sedikit masalah fisik. Akhirnya kami memutuskan untuk membagi rombongan menjadi dua tim. Tim yang pertama bertugas untuk secepatnya sampai ke bawah, mengurus mengenai  transportasi pulang kami. Sementara satu tim yang lain bertugas untuk menemani teman kami yang masih berada di belakang.

Pukul 18:00 akhirnya kami semua sampai di Pura Pasar Agung. Mobil carteran telah berada di parkiran dan siap mengantarkan kami pulang menuju Klungkung, rumah salah seorang anggota Astacala yang menjadi base camp kami selama di Bali. Dua hari lagi rencananya kami akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok. Terbersit keinginan bahwa suatu hari nanti aku berencana untuk mendaki Gunung Agung lagi, kali ini lewat jalur Pura Besakih yang tidak sempat aku lalui.

Tulisan oleh Wisnu Angga Firdy
Foto oleh Tim Pendakian Gunung Agung

5 Comments for “Pendakian Puncak Agung, Tempat Suci Masyarakat Hindu Bali”

Risha Gustiani Hamzah

says:

Maaf om admin, kalo boleh, tolong share dong, alat transportasi dan biayanya dari bandara ngurah rai sampai ke karang asem, kalo bisa sampai pura pasar agung. insyaallah juli ini, saya naek gunung agung juga..

says:

Transportasi umum menuju Pelataran Pura Pasar Agung bisa menggunakan Bus Sarbagita / Damri dari Bandara Ngurah Rai ke Terminal Batubulan Gianyar. Dari Terminal Batubulan bisa dilanjutkan dengan minibus menuju Terminal Klungkung. Dari Terminal Klungkung bisa dilanjutkan ke Desa Sidemen dengan menggunakan angkutan kota. Akses transportasi umum hanya sampai di Sidemen. Dari Sidemen bisa mencarter angkutan kota sampai ke Pelataran Pura Pasar Agung. Carter angkutan kota juga bisa atau lebih baik dimulai dari Klungkung.

Tukul

says:

Benar Bung Gejor! Bus Trans SARBAGITA(DenpaSAR-BAdung-GIanyar-TAbanan) sekarang telah menjadi Moda Transportasi yg nyaman di Bali. Mirip banget sama Trans Jakarta (malah lebih nyaman karena umumnya penumpangnya ga ramai jd ga harus berdiri/desak2an macam Trans Jkt). Happy Traveling!

says:

Waah selamat ya udah sampai puncak, saya sama teman teman rencanany juga bakal naik gunung agung tnggl 16 agustus ini, kami ini siswa SMAN 3 Dpsr. Bsa tlng dijelasin medan dan kesulitan yg dialamin slama pendakian nya gak kak? Makasi sebelumny yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *