Temu Wicara Kenal Medan XXIII

Temu Wicara Kenal Medan atau yang biasa disingkat TWKM merupakan forum tertinggi mahasiswa pecinta alam (Mapala) tingkat perguruan tinggi se-Indonesia yang biasa diadakan setahun sekali dengan tempat yang berbeda -beda berdasarkan keputusan TWKM sebelumnya. Maksud dari kegiatan ini adalah diharapkan dapat melahirkan suatu gagasan untuk masalah masalah internal organisasi, sosial dan lingkungan, serta ajang sharing ilmu kepecintaalaman antar peserta.

Jika dilihat dari sejarahnya, TWKM ini berawal dari keinginan mahasiswa pecinta alam untuk menambah wawasan di bidang kepecintaalaman seperti  manajemen organisasi sampai masalah sosial dan lingkungan di sekitar kita. Dimulai dengan kegiatan yang bernama kemah bakti atau yang biasa disebut camping ceria Mapala Se-Jawa-Bali pada tahun 1987 yang diadakan oleh UPL MPA Unsoed (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto). Pada saat itu dihadiri juga oleh perwakilan bidang kemahasiswaan DIKTI yang mengatakan adanya anggaran yang bisa digunakan untuk mengadakan acara berskala nasional.  Setelah itu tercetuslah kegiatan TWKM pertama yang dilaksanakan oleh Madawirna (Mahasiswa Pecinta Alam IKIP Yogyakarta) pada tahun 1988. Kegiatan TWKM I sampai IV dilakukan dengan tidak memisahkan antara kegiatan temu wicara dan kegiatan kenal medan. hal itu ditujukan untuk  refreshing di lapangan setelah para peserta kegiatan memeras pikiran dalam diskusi untuk membuat ketetapan dan keputusan TWKM. Tetapi pada TWKM V pada tahun 1992 di Korpala (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Hasannudin, Makassar), baru dibuat suatu aturan yang memisahkan antara kegiatan temu wicara dan kegiatan kenal medan dengan tujuan para top senior mapala lebih berkonsentrasi membahas permasalahan bangsa, di mana pada saat itu suasana kondisi politik tanah air sedang tidak stabil sehingga solusi untuk negara dapat tercipta dari kegiatan TWKM tersebut. Dan aturan inilah yang dipakai sampai sekarang.

Pada tahun 2011 ini adalah waktunya dilaksanakan TWKM XXIII. TWKM XXIII ini diadakan di Medan, Sumatera Utara dengan tuan rumah pelaksana GMPA-ITM (Mahasiswa Pecinta Alam Institut Teknologi Medan) dan dilaksanakan dari tanggal 24 Juni 2011 sampai 2 Juli 2011. Kegiatan ini diawali dengan Studium General dan Rehabilitasi lahan dari tanggal 24 sampai 26 juni 2011 di Taman Hutan Rakyat Brastagi.

Kemudian dimulai pada tanggal 27 Juni 2011 sekitar pukul 14.00, peserta kenal medan mulai berangkat ke masing-masing lokasi tujuan seperti KM Gunung Hutan ke titik start perjalanan di Sempulan Angin, KM Rock Climbing ke Tebing Simarsolpa, KM Caving ke Bahorok, KM Rafting ke Sungai Asahan, KM Susur Pantai ke Pantai Batu Bara, dan KM Gantole di Hutaginjang. Sedangkan KM Diving gagal berangkat dikarenakan pesertanya yang hanya  orang saja sehingga tidak memenuhi kuota. Dan sementara itu peserta temu wicara TWKM mulai melakukan pra sidang yang membahas tentang tata tertib dan agenda sidang yang selesai pada 28 Juni 2011 malam. Ada satu hal yang agak ‘panas’ dibahas di pra sidang ini, yaitu tentang penamaan. Ada sebagian peserta mengusulkan perubahan nama dari “TWKM XXIII Mapala Tingkat Perguruan Tinggi Se-Indonesia” menjadi” TWKM XXIII Mapala se-Indonesia”. Hal ini merujuk pada keikutsertaan saudara-saudara kita dari mapala tingkat fakultas supaya bisa mengikuti forum tertinggi mapala ini. Namun yang terjadi adalah deadlock sehingga nama untuk kegiatan ini tidak berubah.

Pada tanggal 29 Juni 2011 masuk ke agenda sidang pleno. Di sini dibacakan laporan pertanggungjawaban dari Pusat Koordinasi Nasional (PKN) dan laporan pertanggungjawaban dari tuan rumah TWKM tahun sebelumnya (2010). Di sini juga diputuskan sidang akan dibagi menjadi rapat-rapat komisi yang terdiri dari Rapat Komisi A dan Rapat Komisi B. Rapat Komisi A membahas tentang masalah-masalah internal organisasi mapala, sedangkan Rapat Komisi B membahas tentang isu sosial dan lingkungan yang dibawa oleh perwakilan dari setiap Pusat Koordinasi Daerah (PKD).

Dalam Rapat Komisi A bisa dibilang menjadi sesi ‘curhat’ para dewan pengurus organisasi mapala pesertatentang masalah internal organisasinya. Masalah-masalah tersebut seperti organisasinya yang mau dibekukan, ada organisasi yang tidak dianggap oleh rektorat kampus, dan berbagai macam masalah lainnya. Sedangkan Rapat Komisi B membahas masalah lingkungan yang ada di daerah masing-masing. Dari PKD Bandung sendiri mengangkat isu tentang Kawasan Karst Citatah yang semakin memprihatinkan, tentang dugaan penyebab yang diakibatkan oleh banyaknya pabrik tambang yang berkembang di sana.

Setelah semua rapat komisi selesai, agenda acara temu wicara masuk ke sidang  paripurna. Semua hasil rapat komisi akan diputuskan dan ditetapkan di sini. Setelah itu dilakukan pencalonan dan pemilihan perangkat-perangkat TWKM. Tuan rumah TWKM tahun 2012 mendatang dengan sukses dipercayakan kepada Mahacita (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) dan untuk Pusat Kordinasi Nasional setahun ke depan adalah KMPA Ekacitra (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Jakarta). Untuk wilayah Jawa Barat, PKD dipercayakan kepada Palawa (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Padjajaran, Bandung). Setelah itu acara ditutup dengan malam inagurasi yang menyuguhkan pentas seni dengan musik beraliran reggae di mana seluruh peserta temu wicara dan kenal medan sudah berkumpul kembali di malam terakhir ini.

Besar harapan dari para peserta TWKM agar inspirasi dan aspirasi yang sudah mereka tuangkan selama 5 hari 5 malam  dapat dilihat, didengar, dan ditindak lanjuti oleh para pemegang kendali negara ini sehingga usaha yang dikeluarkan tidak menjadi sia-sia. Dan yang pasti TWKM ke depan menjadi lebih baik dan lebih berbobot dari TWKM-TWKM sebelumnya.

Salam Lestari!!

Tulisan oleh Rahmadian Iksanul Hakim