Mengunjungi Sang Penjaga Kearifan Padjajaran

Mengunjungi Sang Penjaga Kearifan Padjajaran

Terhenyak ketika saya membaca tentang kisah Kerajaan Pakuan Padjajaran. Bagaimana arus balik meluluhlantakkan kerajaan ini. Prabu Surya Kencana dengan arifnya tetap bertahan menjaga idealismenya dan tak kenal gentar meskipun ia harus lari ke daerah hutan bersama para perwiranya. Konon sang prabu dan pengikut setianya harus tinggal di tanah itu, Baduy namanya.

Rasa penasaran mencuat di ubun-ubun saya dan ingin rasanya saya pergi ke tanah Baduy. Siang hari itu,  diawali obrolan ringan di kantor dan rasa penasaran terhadap Kerajaan Padjajaran saya mencoba mengajak beberapa kawan jalan ke pedalaman Suku Baduy. Akhirnya  ide yang sempat terbisik di pikiran saya mengunjungi suatu suku di pedalaman tanah Baduy pun disetujui mereka. Dari hasil obrolan tersebut akhirnya keesokan hari malamnya saya dengan tiga orang teman berangkat menuju Kota Rangkas di Banten, mengunakan kereta tua jurusan Jakarta – Rangkas. Dari stasiun kami berjalan menuju alun-alun Kota Lebak. Pada malam itu maksud hati ingin tidur di Masjid Agung Kota Lebak, tetapi gerbang masjid terkunci rapat. Akhirnya malam hari itu kami habiskan dengan menginap di Masjid RS. Adjidarmo.

Ketika subuh mencuat kami terbangun bersama dengan beberapa orang yang bersiap untuk sholat subuh di masjid itu. Rombongan kami pun mulai packing dan meninggalkan masjid menuju pasar untuk membeli beras dan ikan asin yang konon menjadi menu favorit warga Baduy. Lalu dari pasar kami menumpang angkot menuju Terminal Aweh. Sesampainya di terminal pagi itu setelah menempuh 15 menit perjalanan sebuah mobil Elf bertuliskan ‘Rangkas-Ciboleger’ sudah gagah menunggu di sana. Desa Ciboleger adalah gerbang terdekat untuk mengunjunggi perkampungan Baduy. Beberapa jam menunggu Elf pun masih diam di tempatnya, sampai akhirnya ketika jarum jam menunjukan jam 11 mobil baru menyusuri jalan menuju Ciboleger.

Terminal Aweh, terminal untuk menuju Ciboleger

Siang mulai beranjak ketika mobil berhenti di ujung jalan Ciboleger di mana di sana sudah mulai kami jumpai banyak orang yang konon pewaris Kerajaan Pakuan Padjajaran. Orang Kanekes atau disebut juga Baduy, adalah suatu kelompok masyarakat dengan adat sunda yang berlokasi di wilayah Kabupaten Lebak, Banten.  Suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua yaitu Suku Baduy dalam dan Suku Baduy luar. Ketika kami mulai masuk ke daerah kampung Baduy, tatanan tangga berbatu pun mulai tampak di depan mata. Tanah liat licin dan batu-batuan kami tapaki dengan perlahan. Setelah berjalan beberapa langkah, karena kebutaan kami terhadap Baduy akhirnya kami tergoda menggunakan jasa guide untuk menunjukkan kediaman Bapak Sarpin. Entah mengapa seolah-olah ketika kami mulai masuk ke kampung Baduy menyebut nama Bapak sarpin merupakan kunci agar kami dipermudah disana.

Kampung yang pertama kali kami kunjungi adalah kampung-kampung Baduy luar. Di kampung Baduy luar ini tidak diperbolehkan mengkonsumsi listrik dan pendidikan formal, bahkan akses jalan ke kampung pun dibuat agar jalan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, akan tetapi penduduknya sudah boleh mengunakan alat elektronik seperti handphone misalnya. Kami pun masih diperbolehkan foto-foto di kampung tersebut. Setelah 1 jam perjalanan yang dihiasi dengan indahnya pemandangan perkampungan yang asri, kami pun sampai di rumah Kang Sarpin. Ketika kami mencari beliau ternyata beliau sedang tidak berada di rumah. Akhirnya kami pun ditemani Mul anaknya. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul tentang Baduy. Kami mendapat cerita banyak tentang Suku Baduy. Saya pun makin mengagumi mereka dengan sifat konsistensi mereka menjaga tanah leluhur mereka. Berbeda dengan kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang ini yang mulai melupakan norma budaya asli mereka.

Kemudian setelah sejenak melepas lelah perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Tapak kaki kami mulai menyusuri tatanan batu hitam nan rapi yang membelah kampung dan berujung di bukit–bukit. Setelah berjalan sesaat tampak gagah di depan kami sebuah anyaman bambu-bambu besar membentang di atas sungai yaitu jembatan tradisional Suku Baduy, semuanya berasal dari alam tanpa semen dan paku. Itulah jembatan pertama yang kami lalui, sambil terus menguak sisi Baduy lewat penjelasan Mulyono yang menjadi guide kami. Kami pun terus berjalan menyusuri bukit–bukit yang dimanfaatkan oleh  warga Baduy untuk bertani. Pola pertanian mereka adalah tiap musim membuka lahan lahan baru. Sehingga tampak bukit-bukit itu seperti sebuah anyaman pertanian yang indah. Beberapa menit berjalan tampak sebuah karya seni berupa jembatan bambu kembali menatap di depan kami. Jembatan ini merupakan perbatasan Baduy luar dan Baduy dalam. Mulyono pun mengisyaratkan kepada kami untuk mematikan dan memasukkan peralatan elektronik kami ke dalam ransel yang kami bawa.

Jembatan alami buatan Suku Baduy

Saya  mengucapkan kulonuwun (permisi dalam Bahasa Jawa) , kata-kata yang selalu saya ucapkan ketika memasuki tanah baru. Langkah kaki kami semakin mendekat ke pemukiman Baduy dalam yang mulai terlihat di seberang bukit. Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah, di mana bukit–bukit berjejalan ingin memenuhi Tanah Banten tersebut, serta lumbung padi Suku Baduy yang sangat alami.  Hal-hal tersebut merupakan tanda bahwa kehidupan Suku Baduy masih sangat dekat dengan  alam serta masih sangat kuat menjaga nilai-nilai yang merupakan warisan leluhur mereka.

Ketika kami sampai di sana, kami pun mengagumi adat mereka. Bahkan rumah mereka pun juga masih menghormati adat. Bangunan berupa rumah panggung dari bambu di tanah mengikuti kontur tanah. Pada tanah yang miring dan tidak rata permukaanya, mereka mengunakan batu kali untuk menyangganya. Atapnya terbuat dari daun yang disebut ‘sulah nyanda’. Nyanda berarti sikap bersandar, sandaranya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Salah satu sulah nyanda ini dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap. Dindingnya pun terbuat dari anyaman bambu yang begitu indah. Di dalam rumah terdapat tiga ruangan yaitu ruang yang dikhususkan untuk tidur kepala keluarga dan juga dapur, ruang untuk tidur anak-anak, dan ruang utuk menerima tamu. Uniknya jika di dalam rumah ada lebih dari satu keluarga, maka dapurnya juga harus menyesuaikan jumlah keluarga di dalam rumah tersebut. Hukum adat Baduy mengatakan bahwa rumah yang mereka bangun harus saling berhadapan dan menghadap ke selatan atau utara arah mata angin. Malam itu pun kami bermalam di rumah salah satu warga Baduy dalam.

Rumah Suku Baduy

Keesokan harinya kami mulai terbangun ketika sinar matahari mulai berlomba menyelip di sela–sela atap rumah Baduy. Kami tak tahu jam berapa itu, yang  jelas ibu–ibu Baduy sudah mulai menyalakan tungkunya. Pagi itu kami memang sudah berencana untuk kembali ke Jakarta. Tak lama setelah terbangun, disuruhnya kami sarapan oleh empunya rumah. Setelah selesai menyantap masakan pagi Baduy, kami berpamitan untuk kembali pulang. Tak lupa kami memberi beras serta ikan asin yang kami beli di pasar Lebak Banten sebagai ucapan terima kasih. Lalu kami berempat pun mulai melakukan perjalanan pulang.  Kali ini kami melalui jalur yang lain, yaitu jalur yang langsung tembus ke Ciboleger tanpa melewati Baduy dalam lagi. Turunan tajam dan batuan kali menjadi teman kami menyusuri jalan pulang tersebut. Tak lama kami menemukan aliran sungai yang cukup besar sehingga kami pun bermain–main di sana selama beberapa saat. Tak lama bermain, kami kembali beranjak menuju Ciboleger. Sekitar 2 jam perjalanan terlihat segerombolan orang sedang membangun rumah ala Baduy yang menandakan Ciboleger sudah di depan mata. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta dari Terminal Aweh. Dalam perjalanan pulang menuju hiruk pikuk kota saya terus berpikir bagaimana konon dulu Sang Prabu Surya Kencana beserta panglimanya melewati jalan ini untuk terus bertahan dari gempuran arus balik yang menyerang kerajaan mereka. Lalu membangun Suku Baduy dengan tetap memegang adat istiadat yang sangat dihormati oleh mereka hingga zaman moderen seperti sekarang ini. Saya sangat kagum terhadap mereka dan berharap semoga nilai kearifan budaya yang mereka junjung tinggi dapat melekat dalam hati.

Tulisan oleh Muhammad Amien.
Foto oleh Wisnu, Galih, Amien, Ilfan

  • Penulisnya nyampah di tempat gw nih, tapi mereka semua gila,dengan modal nekat & sedikti perencanaan udah berangkat, salutt!

  • Amien

    – foto terakir adalah foto dari wisnu[atas ane]. suwun dap.

  • Galih

    ngaplot poto gw masih error min,,tar mlm dah gw coba lg