Penyu Hijau dari Pangumbahan

Pagi menjelang siang, di suatu daerah pesisir selatan Jawa Barat. Pantai yang landai mulai berganti dengan ombak yang tinggi seiring perjalanan menuju Teluk Penyu. Hutan-hutan pesisir menghijau mulai tampak. Sebuah bilik berpagar rapat dengan bambu berbentuk persegi besar sekitar 10 x 10 meter berdiri. Itulah tempat meletakkan telur-telur penyu hijau di tempat penyelamatan penyu Pangumbahan. 

Tempat penagkaran penyu di Pangumbahan

Pangumbahan, Tempat Penyelamatan Penyu Hijau

Pangumbahan adalah sebuah kampung yang termasuk dalam wilayah administratif Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Di tempat ini merupakan tempat penyelamatan penyu yang berada di bawah naungan Departemen Perikanan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dikelola sejak Februari 2008. Sebelumnya, pengelolaan penyu di tempat ini dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang bernama CV Abdi Jaya.

Tempat penangkaran telur penyu

Pengelolaan peyu di tempat ini adalah dimana seluruh telur dan tukik (anak penyu) yang dihasilkan seratus persen dikembalikan ke laut. Sedangkan jika dibandingkan dengan pengelolaan sebelumnya yang dilakukan oleh swasta, telur-telur penyu yang dihasilkan dibagi 70 : 30. Dimana 70% diambil oleh pengelola, sedangkan tiga puluhnya dirawat, untuk selanjutkan menghasilkan tukik yang nantinya dikembalikan ke laut.

Kehidupan Penyu

Penyu di tempat ini berjenis penyu hijau (chelonia mydas), termasuk penyu yang dikatagorikan hewan langka. Setiap malam, di sepanjang Pangumbahan sampai dengan Ciwaru adalah pantai tempat penyu ini bertelur. Penyelamatan penyu yang dikelola oleh Departemen Perikanan hanya dari Pangumbahan sampai dengan muara Sungai Cipanarikan. Sedangkan dari muara Sungai Cipanarikan sampai dengan Ciwaru berada dalam pengelolaan Departemen Kehutanan Kabupaten Sukabumi.

Dibandingkan dengan Departemen Kehutanan, pengelolaan di bawah Departemen Perikanan pantainya jauh lebih pendek. Hanya sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Terdapat enam titik pos pemantauan penyu bertelur di sepanjang tiga kilometer ini yang diawasi. Setiap malam para petugas mengawasi penyu bertelur di masing-masing pos yang areanya kurang lebih lima ratus meter. Untuk selanjutnya telur-telur yang dihasilkan ditempatkan di penangkaran bilik bambu di pantai pos pertama, di dekat mess petugas.

Di sepanjang Pantai Pangumbahan, penyu bertelur secara secara rutin. Jumlahnya puluhan setiap malamnya. Dan selalu diawasi oleh petugas. Sedangkan untuk tukiknya sendiri, dilepaskan setiap pagi ke laut.

Penyu-penyu yang bertelur adalah penyu yang berusia di atas tiga puluh tahun. Telur-telur penyu memerlukan waktu antara 52 sampai 70 hari untuk ditetaskan, tergantung cuaca. Jika musim penghujan, pasir yang sedikit lebih dingin akan membuat waktunya bertambah lama. Begitu juga sebaliknya jika cuaca adalah panas, waktu menetasnya juga lebih cepat.

Penyu hijau (chelonia mydas)

Dari seratus telur penyu, kemungkinan yang bisa bertahan hidup sampai berusia di atas tiga puluh tahun adalah satu ekor. Atau bisa jadi tidak ada sama sekali. Sungguh luar biasa.Telur penyu yang banyak berpindah tempat, tersentuh oleh tangan, atau berdesakan dengan telur-telur lain ketika dipindahkan, kemungkinan akan merusak embrio dan gagal menetas. Setelah menetas menjadi tukik, ancaman panas pasir, kepiting, dan burung pasti selalu mengintai. Begitu juga jika sudah ada di laut, tukik-tukik akan menjadi santapan hiu, sasaran camar laut, atau terjaring oleh jala nelayan.

Retorika Penyelamatan Penyu dan Lingkungan

Pada suatu malam saya berkesempatan berbicara dengan Pak Baban, salah seorang petugas senior di tempat ini. Ia sudah menjadi pegawai negeri tetap di Departemen Perikanan.

Penyelamatan penyu di tempat ini banyak memiliki kendala. Banyak warga yang setiap malam mngambil penyu yang keluar dari laut untuk diambil telurnya. Sangat sulit dicegah. Walaupun oleh polisi sekalipun yang juga ikut bertugas, karena orang-orangnya begitu banyak. Selain itu, orang-orang yang mengambil telur-telur tersebut melakukannya karena dorongan ekonomi. Banyak yang merupakan penggangguran dan tidak mempunyai pekerjaan. Sehingga telur-telur tersebut menjadi begitu berharga walaupun harganya satu butir jika dijual kepada penadahnya adalah 2500 rupiah.

Telur penyu dipercaya sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mitos yang melegenda di masyarakat. Begitu juga dagingnya. Dan cangkangnya, banyak digunakan sebagai hiasan barang antik.

Di lain pihak, penduduk sekitar banyak yang melakukan penebangan pohon di daerah pesisir yang masih merupakan hutan. Kayu hasil tebangan digunakan sebagai bahan bakar penyadapan gula aren karena cukup banyak penduduk membuat gula di daerah ini.

Penyu secara alami akan memilih pantai tempat bertelur yang masih memiliki vegetasi tumbuh-tumbuhan hutan pesisir. Biasanya di sela-sela semak pantai agak ke dalam. Secara kasarnya, minimal lima ratus meter di sepanjang garis pantai haruslah berupa hutan alami yang terjaga.

Makin banyaknya manusia yang menjamah tempat ini untuk merusak hutan ataupun mengambil telur penyu, makin rentanlah kelestarian  penyu hijau ini.

Memang, di mana pun, menjaga kelestarian alam dan lingkungan pastilah berhadapan dengan berbagai persoalan yang kompleks. Seperti di tempat ini. Di mana proses konservasi berhadapan dengan dinamika sosial dan ekonomi. Jika digambarkan ibaratnya seperti jala ikan yang kusut. Berbagai kepentingan berbenturan satu sama lainnya. Tentunya sikap dan kebijakan pemerintah, aparat, serta warga masyarakat yang bertalian secara harmonis sangat diperlukan melihat keadaan ini.

Malam di Pangumbahan

Menjelang sore hari ini, saya bermalam di mess tempat penyelamatan penyu ini. Malam ini begitu gerah. Nyamuk dan serangga beterbangan tak terhitung jumlahnya.

Tengah malam, di pantai, saya dan beberapa petugas mengawasi seekor penyu yang sedang bertelur di daerah pos satu. Pada waktu penyu mulai keluar dari laut, cahaya-cahaya seperti lampu senter atau yang lainnya akan bisa mengurungkan niat penyu untuk bertelur ke darat. Sehingga untuk itu, diperlukan ketajaman telinga dan bantuan sinar rembulan dalam mengawasi adanya penyu yang akan bertelur.

Beberapa orang tak dikenal terlihat berkeliaran. Sepertinya orang-orang yang menginginkan telur-telur penyu seperti yang tadi diceritakan. Mungkin di pos-pos lain, ada lebih banyak lagi orang yang berniat sama.

Dan memang benar, besok pagi diketahui bahwa ada delapan ekor penyu yang keseluruhan telurnya diambil di enam pos yang ada. Itu belum lagi ditambah dengan pos-pos di bawah pengawasan departemen kehutanan atau yang tidak terdeteksi. Mungkin jumlahnya puluhan. Itu setiap malam. Sungguh ironis.

Pelepasan Tukik

Di pagi hari, saya dan beberapa petugas melepaskan tukik. Tukik-tukik dari telur-telur yang sudah berumur limapuluhan hari yang telah menetas. Ditambah dengan tukik yang sudah siap dilepaskan yang ada di tempat penangkaran, semuanya kami lepaskan ke laut. Pagi ini ada sekitar seribu ekor tukik.

Pelepasan tukik

Satu dua ekor yang terlambat menetas terperangkap di dalam penangkaran. Yang kalau dibiarkan pasti akan mati terbakar panasnya pasir di pantai. Saya dan petugas yang ada tidak bisa mengambilnya karena kunci untuk masuk ke tempat penangkaran ini hanya ada satu dan dipegang oleh satu orang.

Sebenarnya hari ini, seorang petugas yang kebetulan berjaga membawa kuncinya. Ia menawari saya untuk mengambil tukik-tukik yang terperangkap itu, tapi akhirnya diurungkan. Dua orang lelaki bertubuh kekar berkeliaran di seputar penangkaran telur ini. Kata sang petugas, andai saja lelaki tersebut melihatnya membuka pintu penangkaran, kemungkinan besar lelaki tersebut bisa memaksa mengambil telur-telur yang ada. Jadi lebih baik mengatakan kalau kuncinya tidak ia bawa.

Tukik-tukik menuju ke laut

Saya menghela nafas. Sedikit kesal dengan keadaan ini. Kenapa harus takut dengan orang-orang seperti itu? Tapi sudahlah. Petugas yang sudah lama malang melintang dengan kondisi seperti ini pasti mempunyai pertimbangan sendiri memutuskan hal tersebut.

Akhirnya, saya hanya bisa memandangi tukik-tukik yang terperangkap itu berputar-putar mencari jalan menuju laut yang terhalang pagar-pagar bambu. Berpacu dengan matahari yang makin meninggi. Tukik-tukik kecil tersebut, sudah pasti tidak akan bisa bertahan sampai besok pagi.

Saya teringat malam sebelumnya, ketika seekor penyu yang sedang bertelur saya lihat. Matanya berair sampai ia kembali lagi menuju laut. Mungkinkah ia menangis? Ibaratnya seorang ibu yang baru saja melahirkan anak-anaknya. Ia meninggalkan telur-telurnya. Tanpa pernah tahu apakah telurnya akan menetas dan selamat menjadi tukik, ataukah nanti diambil dan dijual kepada para penadah. Tapi yang pasti, ia tahu pada saat ia bertelur, ada banyak orang yang mengerumuninya dengan berbagai niat.

Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde S.

2 Comments for “Penyu Hijau dari Pangumbahan”

Budi Ardiansyah

says:

saya baru kemarin abis lebaran (11/09/2010)lebaran dari pangumbahan, wah tempatnya luar biasa pasir halus dengan ombak yang menggelegar. tapi ya itu kita harus jaga tempat dan habitat penyu tersebut agar tetap lestari. sayang kalau nanti anak cucu kita tidak bisa melihat. Siapa yang mau ke sana ane jamin kagak rugi, tapi kalau mau lihat penyunya naik kedarat datengnya sore biar nginep di sono soalnya penyu kan nelornya sere bo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *