Kekeringan – Saat Waduk Kehilangan Air

ilustrasi

Siang itu matahari bersinar terik. Bulan Oktober sudah lewat lima belas hari. Harusnya hujan sudah turun. Tiga orang bercapil (topi tradisional) mencari ikan di sebuah kubangan.

Waduk Dawuhan di Dusun Dawuhan, Sidomulyo, Kecamatan Wonoasri, Madiun, Jawa Timur, pada hari Minggu (15/10) itu tidak lagi tampak seperti waduk. Waduk seluas 2.823 hektar itu tampak bagai gurun, gersang tanpa rumput.

Tanah terhampar penuh retakan. Waduk itu kering sejak September lalu. Hanya ada beberapa kubangan air. Di kubangan itu Ahmad Sadi (40), Parto Wajan (50), dan Harjo Pahing (45) mencari ikan. Tubuh mereka berlepotan lumpur dan terpanggang matahari demi mencari ikan daringan atau keting sebesar ibu jari orang dewasa.

“Ini untuk lauk di rumah. Lumayan. Kasihan anak-anak tidak pernah diberi ikan atau daging. Makannya cuma tiwul sama kulupan (sayuran),” kata Ahmad.

Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Wonoasri adalah petani. Hidup mereka sangat tergantung pada sawah dan air hujan. Kalau sawah mengering, mereka tidak berpenghasilan.

Ahmad, Parto, dan Harjo harus berusaha keras untuk bisa memberi makan keluarganya. Tidak heran, sebuah kubangan bisa menjadi rebutan.

Ahmad bercerita, hujan sudah berhenti sejak Mei. Namun, karena ada waduk, sawahnya di Kecamatan Wonoasri masih mendapat air. Akan tetapi, sejak waduk mengering September lalu, Ahmad hanya bisa mencari rencek?kayu sebesar lengan?di hutan atau bukit sekitar waduk untuk kayu bakar.

Selain itu, dia menanam jagung di sekitar waduk. Karena tidak ada air, tanaman jagungnya mati saat berumur sebulan. Demikian juga singkong yang ditanamnya di bukit dekat waduk.

Hidupnya tergantung pada rencek yang makin sulit dicari karena hutan dan bukit di kaki Gunung Wilis sudah gundul. Juga, harga seikat rencek berisi 10 batang hanya dijual Rp 1.000. Sehari, Ahmad dapat lima ikat.

“Mau bagaimana lagi. Saya tidak sekolah. Yang bisa dikerjakan hanya jadi buruh tani dengan upah Rp 15.000 per hari. Itu lebih baik dibanding hanya cari rencek,” keluh Ahmad.

Parto pun demikian. Hidupnya tergantung pada sawah garapan. Beruntung tahun lalu dia menanam singkong di lahan seluas satu hektar. Hasilnya satu ton singkong. Dia menjual 300 kg singkong ke pasar, sisanya disimpan, dibuat tepung singkong.

Pada musim kemarau ini, istrinya mencampur sebatok beras dengan sebatok tepung singkong, dijadikan tiwul. “Kalau beras saja, uangnya tak cukup. Harga beras sudah Rp 4.800 per kg,” tutur Parto. Sayur didapat dari ladang. Bisa bayam, lembayung, atau daun singkong.

Keringnya waduk juga memaksa Ngatemi (35), petani di Tretes, Temayang, Bojonegoro, berjualan ikan. Ikan itu didapat dari Waduk Pacal di Kecamatan Temayang, Bojonegoro.

Ikan kutuk, lele, mujair, dan nila dijual Rp 5.000 hingga Rp 14.000 per 10 ekor, tergantung jenis ikan. Namun, sejak awal puasa lalu, air waduk habis sama sekali. Ngatemi tidak lagi berjualan ikan. Dia mencari kayu bakar yang dijual ke pengepul. Akan tetapi, pengepul pun tidak datang setiap hari.

Sementara itu, Warsih banting setir menjadi pencari rumput untuk sapi milik juragan sapi. Dia baru dibayar jika sapi itu beranak. Warsih akan mendapatkan bagian dari hasil penjualan sapi.

Musim kering telah memaksa Ahmad hingga Warsih untuk berjuang demi kehidupannya. Ini terjadi semata karena kita tak hirau pada lingkungan kita, yang menyebabkan bukit-bukit itu gundul.

Penulis : Lia
Sumber : Kompas Online, Edisi 23 Oktober 2006